Monthly Archives: October 2010

7 DEADLY SINS – VANITY/PRIDE

Standard

Vanity/Pride (Kesombongan)

Kesombongan adalah dosa yang SANGAT SERIUS. Dosa ini saya letakkan di paling akhir karena dari sumber dosa inilah mengalir aliran dosa-dosa maut yang lain. Dosa utama Adam dan Hawa adalah bukan dosa memakan buah pengetahun yang baik dan yang jahat. Dosa utama mereka adalah karena mereka ingin menyamakan diri mereka seperti Allah. Mereka ingin menentukan sendiri standard apa yang baik dan apa yang jahat menurut pandangan mereka. Mereka menolak standard yang Allah berikan. Penolakan mereka merupakan bukti dosa kesombongan mereka karena hendak menyamakan diri dengan yang Maha Tinggi!

Akan tetapi Allah bukanlah Allah yang selama-lamanya membiarkan orang-orang sombong ini berdiri tegak. Yesaya 2:17 mengatakan bahwa “Manusia yang sombong akan ditundukkan dan orang yang angkuh akan direndahkan; hanya Tuhan sajalah yang maha tinggi pada hari itu.”

Beberapa hal yang menarik dari dosa kesombongan adalah:

– Dosa kesombongan (biasanya) hadir pada pribadi manusia yang angkuh (tinggi hati)
Keberhasilan atau kesuksesan hidup adalah hal yang selalu membanggakan hati, akan tetapi keberhasilan atau kesuksesan hidup ini bisa menjadi “jerat” yang mematikan jika kita menjadi angkuh (tinggi hati). Keangkuhan sebagai hasil dari keberhasilan atau kesuksesan hidup bisa dilihat dari orang-orang kaya yang lupa bagaimana asal mereka dahulu sebelum mereka menjadi orang yang kaya. Mereka lupa (atau sengaja melupakan) bahwa berkat Tuhanlah yang membuat mereka kaya, mereka mengira jerih payah merekalah yang telah membuat mereka menjadi kaya. Amsal 10:22 mengatakan, “Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya, susah payah tidak akan menambahinya.” – Tanpa Tuhan memberkati jerih payah kita, maka kekayaan tidak akan datang. Berkat Tuhanlah yang menjadikan kaya!

Jadi, ingatkanlah diri Anda ketika Anda saat ini (atau suatu saat) Tuhan ijinkan menjadi kaya agar tidak menjadi tinggi hati dan melupakan Tuhan, Sang Sumber Berkat itu. Ingatlah akan orang-orang di sekeliling Anda (mungkin itu ayah, ibu, saudara, adik, keponakan, paman, dll.) yang mengalami kesusahan ekonomi, bantulah mereka dengan cara yang sehat dan benar agar mereka dapat mandiri dan kemudian bekerja mengembangkan bantuan yang Anda berikan.

– Dosa kesombongan (bisa) hadir pada pribadi manusia yang minder (rendah diri)
Orang yang minder (rendah diri) bisa jatuh ke dalam dosa kesombongan seperti halnya orang yang angkuh (tinggi hati). Orang yang minder biasanya takut (risih) ketika bertemu atau berhadapan (bergaul) dengan orang-orang yang ada di atasnya; entah itu berada di atas dalam hal ekonomi, jabatan, pendidikan, status social, atau yang lainnya. Keminderan mereka membuat mereka menutup diri karena mereka malu jika mereka terlihat berada di bawah orang-orang yang sukses ini.

Akan tetapi hal yang menyebalkan dari orang-orang minder ini adalah mereka cenderung menutup diri untuk belajar dari orang-orang yang telah sukses. Buat mereka seolah-olah sesuatu yang memalukan jika harus belajar dari orang-orang yang sukses ini. Belajar dari orang-orang yang sukses ini berarti harus merendahkan diri dan mengakui bahwa diriku ada di bawah mereka. Demikianlah mereka jatuh di dalam dosa kesombongan. Jika orang yang angkuh jatuh ke dalam dosa kesombongan karena meninggikan diri atas keberhasilannya, maka orang yang minder jatuh ke dalam dosa kesombongan karena meninggikan diri atas kekurangannya! Pada hakekatnya, baik orang yang angkuh maupun orang minder, mereka adalah sama-sama orang yang “belagu”! Hal yang membedakan di antara mereka hanya area “ke-belagu-an” mereka. Jika yang yang angkuh “belagu” dengan keberhasilannya, maka yang minder “belagu” dengan kebodohan atau kekurangannya.

Advertisements

7 DEADLY SINS – WRATH

Standard

Wrath (Kemarahan)

Jika kemarahan merupakan salah satu dari dosa maut, lalu mengapa Tuhan Yesus sendiri melakukan tindakan kemarahan? Tidakkah tindakan Yesus yang mengobrak-abrik para pedagang dan penukar uang di halaman Bait Allah adalah merupakan tindakan kemarahan?

“Ia (Yesus) membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.” (Yohanes 2:15)

Untuk dapat memahami hal ini kita harus melihat kemarahan di dalam 2 (dua) kategori yang berbeda satu sama lain walaupun penampakkan ekspresi luar dari kedua model kemarahan ini bisa sama:

– Kemarahan sebagai sebuah keputusan (Anger as a decision)
Kemarahan yang Yesus lakukan di atas adalah kemarahan sebagai sebuah keputusan. Kemarahan sebagai sebuah keputusan adalah suatu tindakan yang harus dilakukan ketika di hadapan kita terjadi sesuatu yang MEMANG melanggar atau menodai kemuliaan Tuhan. Apa yang Yesus lakukan di depan Bait Suci adalah sebuah tindakan kemarahan kudus untuk membela kehormatan Bait Suci – yang adalah rumah Allah – yang sudah dinodai oleh perdagangan dan konspirasi politik antara para pedagang dan para pemimpin umat (Orang Farisi) pada waktu itu. Sehingga Bait Suci sudah tidak lagi menjadi “suci” dengan masuknya intrik-intrik perdagangan, selain itu, konsentrasi utama dari keberadaan Bait Suci yang adalah agar manusia dapat beribadah kepada Allah menjadi terganggu oleh hiruk-pikuk perdagangan. Pada dasarnya, kemarahan Kristus pada waktu itu adalah karena fungsi “pasar” (bisnis) telah berpindah ke dalam Bait Suci.

Ps: Anda HARUS marah (walaupun tanpa perlu mengobrak-abrik bangku-bangku Gereja) jika rumah Tuhan sudah tidak lagi berfungsi sebagai tempat ibadah!

– Kemarahan sebagai sebuah koleksi (Anger as a collection)
Kemarahan sebagai sebuah koleksi adalah kemarahan yang tidak berkenan di hadapan Allah. Kemarahan sebagai sebuah koleksi adalah suatu tindakan kemarahan yang meluap keluar sebagai hasil dari (1) akar pahit atau (2) dendam atau (3) kebencian yang tidak dibereskan, yang ada di dalam hati kita selama berhari-hari, atau berminggu-minggu, atau berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun! Ketiga hal di atas jika tak tertangani dengan baik (yaitu dibereskan di hadapan Tuhan dan sesama dengan serius) ibarat sebuah “bom waktu” yang siap meledak kapan saja ketika ada “pemicu”-nya. Kemarahan seperti ini adalah kemarahan yang dapat membawa maut! Baik bagi orang yang dibelenggu oleh kemarahan ini, maupun bagi orang sekitar yang menjadi korban dari kemarahan ini.

Sebagai contoh: Seorang anak laki-laki berumur belasan tahun pernah berkata bahwa suatu saat nanti ketika dirinya sudah menjadi pria dewasa, ia ingin membunuh ayahnya. Mengapa seorang anak berumur belasan tahun dapat menginginkan kematian ayahnya sendiri? Sebab anak laki-laki ini sedari kecil sudah menyaksikan kekerasan ayahnya atas ibunya. Bahkan ketika sang ayah tidak puas melampiaskan kemarahan kepada ibunya, maka anak ini menjadi “sansak tinju” berikutnya dari sang ayah. Tindakan abusive sang ayah yang bertahun-tahun ini, mengendapkan dendam kesumat di dalam hati anak laki-laki ini. Itu sebab ia menunggu waktu yang sempurna ketika ia dewasa kelak, dimana sang ayah sudah tua renta, di waktu itulah dendam kesumat ini menghasilkan ledakan kemarahan yang dahsyat dan membawa maut bagi sang ayah maupun bagi sang anak itu sendiri.

Apakah Anda mempunyai (1) akar pahit? (2) dendam? Atau (3) kebencian yang tidak dibereskan? Jika “Ya”, maka SEKARANG juga berlututlah di samping tempat tidurmu, dan berdoalah kepada Tuhan Yesus. Mohonkanlah pemulihan dan kekuatan untuk mengampuni mereka yang telah melukai hati Anda dengan sangat. Janganlah tunda untuk melakukan seru sembahyang ini, lakukanlah sekarang sebelum nantinya Anda menyesal karena sudah memendam “bom waktu” yang toh akan merugikan diri Anda sendiri.

7 DEADLY SINS – AVARICE/GREED

Standard

Avarice/Greed (Keserakahan)

Keserakahan dapat dibagi menjadi tiga bagian penting sebagai berikut:

– Sebuah obsesi atau hasrat menggebu untuk memiliki benda-benda materi (hal-hal duniawi) lebih dan lebih lagi.

– Sebuah obsesi atau hasrat menggebu untuk memiliki kuasa (power) lebih dan lebih lagi.

– Sebuah ketakutan akan hari depan sehingga ketakutan ini mendorongnya untuk mengumpulkan benda-benda atau uang sebanyak-banyaknya guna hari depan yang ditakutinya itu.

Orang-orang yang dibelenggu oleh dosa keserakahan ini memiliki ciri khas yang sama, yaitu: perasaan yang tumpul! Efesus 4:19 mengatakan, “Perasaan mereka telah tumpul, sehingga mereka menyerahkan diri kepada hawa nafsu dan mengerjakan dengan serakah segala macam kecemaran.”

Seseorang yang telah tumpul perasaannya tidak akan memusingkan dirinya dengan apa yang menjadi hukum Tuhan atau peraturan dunia ini. Hukum atau peraturan utama bagi mereka adalah kepuasan mereka sendiri! Di dalam “kamus” hidup orang seperti ini, tidak ada lagi yang namanya “sesamaku manusia”. Ia hidup hanya untuk si aku, si aku, dan si aku. Kemiskinan dan kekurangan sesamanya manusia tidak dihiraukan lagi olehnya.

Yesus, di dalam perumpamaan tentang orang kaya yang bodoh memperingatkan dengan keras seraya Ia berkata, “Berjaga-jagalah dan waspadalah terhadap segala ketamakan, sebab walaupun seorang berlimpah-limpah hartanya, hidupnya tidaklah tergantung dari pada kekayaannya itu.” (Lukas 12:15)

Kunci untuk mematikan dosa ketamakan atau keserakahan ini adalah dengan “berjaga-jaga” dan “mewaspadai” diri senantiasa. Dengan apa? Dengan (1) firman Tuhan, (2) doa dan (3) persekutuan dengan sesama orang Kristen yang takut Tuhan. Ketiga hal ini akan sangat membantu kita untuk terhindar dari penyakit tumpulnya perasaan.

Cobalah renungkan sejenak dua pertanyaan refleksi diri di bawah ini:

– Apakah yang Anda rasakan ketika Anda melihat langsung seorang anak kecil yang begitu berkekurangan dan membutuhkan makanan di perempatan lampu merah?

– Apakah yang Anda rasakan ketika Anda mendengar langsung teriakan permohonan dari seorang yang ibu yang merintih memohon bantuan kepada Anda untuk anaknya yang sakit karena kelaparan?

7 DEADLY SINS – SLOTH

Standard

Sloth (Laziness atau Kemalasan)

Banyak dari kita berpikir bahwa dosa kemalasan adalah dosa karena tidak melakukan apa-apa, selain duduk-duduk atau tidur-tiduran tanpa melakukan apa-apa. Ya, hal ini memang benar adalah sebuah dosa kemalasan, akan tetapi ada begitu banyak orang yang sibuk dengan sangat mengerjakan hal-hal yang tidak seharusnya mereka lakukan, dan mereka malah menunda-nunda untuk mengerjakan hal-hal yang seharusnya mereka kerjakan sampai “nanti” atau “besok”. Mereka sengaja menyibukkan dirinya dengan perkara-perkara yang sepele, supaya dengan demikian mereka ada excuse (alasan) untuk tidak mengerjakan perkara-perkara yang jauh lebih berguna yang seharusnya mereka kerjakan “sekarang” dan “hari ini”. Sikap menunda-nunda untuk mengerjakan hal yang lebih penting dengan mengerjakan hal yang tidak penting adalah dosa kemalasan!

Sebagai contoh: Seorang pelajar bisa saja menyibukkan dirinya dengan berbagai kegiatan extrakurikuler yang ada di Sekolah, akan tetapi kegiatan extrakurikuler ini “dipakai” oleh mereka untuk menghindari diri mengerjakan tugas-tugas PR atau persiapan menjelang ulangan yang jauh lebih penting.

Atau orang tua yang sibuk begitu rupa di dalam pekerjaannya, sampai-sampai ia tidak punya waktu untuk bercengkrama atau bertamasya dengan anak-anaknya. Mereka (para orang tua) memakai alasan kesibukan di kantor atau kesibukan pekerjaan sebagai “alat” agar mereka tidak harus meluangkan waktu yang seharusnya bagi perkembangan emosional anak-anaknya. Berapa banyak anak-anak yang telah kehilangan figur orang tua (figur ayah atau figur ibu) di dalam proses perkembangannya? Sudah tidak terhitung jumlahnya. Sehingga tidak mengherankan jika kelak mereka (anak-anak ini) dewasa dan menjadi orang tua bagi anak-anak mereka, mereka cenderung akan melakukan kesalahan yang sama, seperti yang pernah dilakukan oleh orang tua mereka dulu. Hal ini menyebabkan banyak anak-anak yang bertumbuh dan menjadi dewasa tetapi tanpa kedekatan emosional yang sehat dengan orang tuanya. Kesan ayah atau ibu begitu kabur dan tidak jelas bagi mereka. Tidakkah hal ini sesuatu yang layak untuk kita perbaiki?

Beberapa ayat tentang kemalasan yang dapat menjadi bahan perenungan kita sekalian adalah: Amsal 6:6, 6:9, 10:26, 13:4, 15:19, 19:24, 20:4, 21:25, 22:13, 24:30, 26:13-16; Pengkhotbah 10:18. (Ambilah Alkitab Anda, dan bacalah ayat-ayat di atas. Janganlah Anda menunda [malas] untuk membaca ayat-ayat ini, mungkin Tuhan ingin berbicara sesuatu kepada Anda melalui ayat-ayat ini)

7 DEADLY SINS – ENVY

Standard

Envy (Cemburu)

Envy tidak sama dengan jealous. Walaupun bahasa Indonesia menterjemahkannya sama, yaitu: cemburu, tetapi pada makna yang dikandung dari kata envy dan jealous terdapat perbedaan yang sangat penting. Jealous adalah kecemburuan yang diarahkan pada sesuatu yang memang merupakan milik kepunyaan pihak yang mencemburinya. Sedangkan envy adalah kecemburuan yang diarahkan pada sesuatu yang bukan merupakan milik kepunyaan pihak yang mencemburuinya.

Dengan kata lain, jealous adalah kecemburuan yang HARUS ADA pada diri seseorang yang memang kehilangan milik kepunyaannya. Tetapi envy adalah kecemburuan yang TIDAK PANTAS ada pada diri seseorang terhadap milik kepunyaan orang lain.

Allah, beberapa kali dicatat Alkitab, cemburu (jealous) pada bangsa Israel ketika bangsa Israel menyembah pada allah lain. Kecemburuan (jealousy) Allah pada bangsa Israel adalah kecemburuan yang pantas karena Israel adalah milik kepunyaan Allah. Seorang suami atau seorang istri pantas untuk cemburu (jealous) jika pasangannya menghianati janji pernikahan untuk saling setia; seia-sekata dan sehidup-semati. Sedangkan mantan pacar dari masing-masing pasangan yang sudah menikah ini, tidak pantas untuk mencemburui (envy) mantan pacar mereka yang sekarang telah menikah.

Dosa cemburu (envy) adalah dosa yang sangat merusak relasi antar manusia. Pada dasarnya dosa ini lahir dari keserakahan, keirihatian, dan ketidakmampuan untuk menerima keadaan diri sendiri apa adanya. Orang-orang yang “dirasuki” oleh envy sanggup melakukan hal-hal yang sangat mengerikan pada sesamanya. Seringkali para pencemburu (envy-er) ini bukan ingin merenggut sesuatu yang bukan miliknya dari orang lain yang memiliki untuk menjadi miliknya, bukan, tetapi seringkali ia (si pencemburu) ingin agar orang lain yang empunya sesuatu yang ia cemburui itu, kehilangan kepunyaannya sehingga orang lain itu menjadi sama seperti dirinya. Si pencemburu ini mendapat semacam kenikmatan psikologis dengan merenggut atau memusnahkan kepunyaan orang lain.

Sebagai contoh: Ada kasus yang pernah terjadi dimana seorang wanita single suka sekali untuk menghancurkan rumah tangga orang lain dengan jalan merayu dan menggoda seorang pria yang sudah berstatus sebagai suami dari orang lain. Wanita ini senang melakukannya hanya sekedar untuk melihat sang pria dan istri-nya yang sah ini bertengkar satu dengan yang lain. Pertengkaran mereka adalah kenikmatan bagi wanita ini. Setelah diamat-amati, ternyata wanita ini mempunyai semacam penyakit kejiwaan dimana ia sebenarnya iri dengan orang-orang yang berbahagia dengan pasangannya. Sedangkan ia sendiri tidak pernah mendapatkan kebahagiaan seperti itu di dalam suatu relasi yang serius dengan seorang pria. Jadi, wanita ini cemburu (envy) terhadap kebahagian yang dimiliki oleh orang lain, dan kuasa envy yang sudah mencengkram jiwanya membuat ia tidak segan-segan untuk merusak rumah tangga orang lain yang dilihatnya harmonis.

Melihat begitu mengerikannya daya rusak yang sanggup dilakukan oleh dosa cemburu (envy) ini, Petrus memperingatkan “karena itu BUANGLAH segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian (envy) dan fitnah.” (1 Petrus 2:1)

Jika Anda sayang membuang dosa ini, maka kerugian terbesar bukanlah pada orang-orang yang Anda cemburui, melainkan pada diri Anda sendiri. “Buanglah” segala kedengkian (envy) itu HARI INI juga!

7 DEADLY SINS – GLUTTONY

Standard

Gluttony (Ke-rakus-an)

Amsal 23:2 berbunyi, “Taruhlah sebuah pisau pada lehermu, bila besar nafsumu!” – Dengan kata lain Amsal hendak berkata, “Matikanlah nafsumu yang besar, sebelum nafsu besarmu itu mematikanmu!”

Dosa rakus pada prinsipnya adalah dosa menginginkan kenikmatan lebih daripada yang seharusnya dan yang sewajarnya. Kenikmatan di sini bisa berupa makanan, minuman, baju, mobil, mainan, tas, barang elektronik, perhiasan, dan lain sebagainya. Kita dapat jatuh ke dalam dosa gluttony ini ketika kita menginginkan (menghasratkan dengan sangat) kenikmatan yang lebih daripada yang normalnya kita butuhkan. Sebagai contoh: Pada jaman Romawi Kuno (Ancient Rome), orang-orang Romawi mempunyai kebiasaan memuntahkan makanan yang sudah mereka makan, agar mereka dapat memasukkan makanan lagi ke dalam perut mereka. Dengan cara inilah mereka dapat memuaskan keinginan mereka dalam hal makanan dengan cara yang tidak wajar.

Mungkin area kenikmatan yang terbesar bagi kita bukan pada makanan, mungkin pada perhiasan, atau pada barang-barang elektronik, atau pada baju, atau pada hal-hal yang lain seperti perhatian dan kasih sayang. Inti dari dosa rakus di sini adalah menginginkan sesuatu yang fana, yang bisa memberikan kenikmatan pada jiwa ini dengan “porsi” yang tidak sewajarnya. Atau dosa rakus bisa juga dikatakan sebagai sebuah dosa yang tidak menempatkan Tuhan sebagai sumber utama (“batu” utama) kenikmatan hidup ini.

Adakalanya Tuhan Allah menunjukkan kasih sayang-Nya yang besar kepada kita dengan cara merenggut sumber-sumber kenikmatan hidup kita. Hal ini diperbuat oleh-Nya agar kita tidak “men-Tuhan-kan” sumber-sumber kenikmatan hidup kita, melainkan kita menjadikan Tuhan Allah sebagai satu-satunya sumber UTAMA kenikmatan hidup ini; baik di dunia sekarang ini, maupun di dunia yang akan datang nanti. Keluaran 34:14 berbunyi, “Janganlah engkau sujud menyembah kepada allah lain, karena TUHAN, yang nama-Nya Cemburuan, adalah Allah yang cemburu.”

Apakah atau Siapakah sumber utama kenikmatan hidup Anda? Anda tidak akan pernah menyesal meninggalkan sumber-sumber kenimatan hidup yang fana ini dan beralih kepada Sang Pemberi Hidup. “Ketahuilah, bahwa TUHANlah Allah; Dialah yang menjadikan kita dan punya Dialah kita, umat-Nya dan kawanan domba gembalaan-Nya.” (Mazmur 100:3)

7 DEADLY SINS – LUST

Standard

Lust (Percabulan)

Dosa percabulan adalah dosa yang sangat keji dan menjijikkan di mata Tuhan. Yesus dengan sangat keras mengekspresikan kejijikkan-Nya akan dosa ini seraya Ia berkata: “Setiap orang yang memandang (with lustful eyes and minds) perempuan serta menginginkannya (memikirkan yang cabul tentangnya), sudah berzinah dengan dia dalam hatinya (!)” (Matius 5:28)

Perhatikanlah kata “dalam hatinya”. Hati manusia adalah pusat pengontrol segala tindak-tanduk kita. Manusia tidak mungkin melakukan tindakan aktual berzinah secara fisik, jika ia tidak pernah berzinah secara hati terlebih dulu. Oleh karena hatinya sudah berzinah, maka hatinya ini mendorong ia untuk berzinah secara fisik!

Yeremia pernah mengatakan suatu analisa yang sangat tepat tentang hati manusia, “Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu, hatinya sudah membatu: siapakah yang dapat mengetahuinya?” (Yeremia 17:9) – Sungguh mengerikan apa yang sanggup Sang Dosa lakukan pada hati manusia, yang diciptakan segambar dan serupa dengan Allah ini. Hati yang seharusnya menjadi sebuah “ruang” bagi Allah untuk bersemayam dan bersekutu dengan manusia, sekarang telah “diduduki” dengan nyamannya oleh Sang Dosa. Dan persekutuan manusia dengan Sang Dosa di dalam ruangan ini telah membuat segala tindak-tanduk manusia menjadi jahat dan licik adanya.

Segala dosa aktual (tindakan atau aktivitas dosa) yang dilakukan oleh manusia, bermuara dari sebuah hati yang tidak lagi memberikan tempat terbaiknya bagi Allah. Jika saja hati ini memberikan tempat terbaiknya hanya bagi Allah, maka kita tidak akan mungkin berani memakai ruangan hati kita untuk berzinah dengan sesama kita. Mengapa? Karena di dalam ruangan hati kita ada Allah yang Maha Suci itu sedang duduk dan bersekutu dengan kita, bagaimana mungkin di ruangan yang sama dimana Allah itu ada, di sana juga kita melakukan perzinahan?

Setiap kali Anda ingin berzinah di ruangan hati Anda, stop-lah sejenak, lalu lihatlah apakah ada Allah sedang duduk di sana? Jika Allah ada di sana, masakah Anda berani berzinah di depan mata-Nya? Atau jika memang Anda berani, hal itu membuktikan bahwa di dalam ruangan hati Anda memang sudah tidak ada lagi Allah. . . .