7 DEADLY SINS – WRATH

Standard

Wrath (Kemarahan)

Jika kemarahan merupakan salah satu dari dosa maut, lalu mengapa Tuhan Yesus sendiri melakukan tindakan kemarahan? Tidakkah tindakan Yesus yang mengobrak-abrik para pedagang dan penukar uang di halaman Bait Allah adalah merupakan tindakan kemarahan?

“Ia (Yesus) membuat cambuk dari tali lalu mengusir mereka semua dari Bait Suci dengan semua kambing domba dan lembu mereka; uang penukar-penukar dihamburkan-Nya ke tanah dan meja-meja mereka dibalikkan-Nya.” (Yohanes 2:15)

Untuk dapat memahami hal ini kita harus melihat kemarahan di dalam 2 (dua) kategori yang berbeda satu sama lain walaupun penampakkan ekspresi luar dari kedua model kemarahan ini bisa sama:

– Kemarahan sebagai sebuah keputusan (Anger as a decision)
Kemarahan yang Yesus lakukan di atas adalah kemarahan sebagai sebuah keputusan. Kemarahan sebagai sebuah keputusan adalah suatu tindakan yang harus dilakukan ketika di hadapan kita terjadi sesuatu yang MEMANG melanggar atau menodai kemuliaan Tuhan. Apa yang Yesus lakukan di depan Bait Suci adalah sebuah tindakan kemarahan kudus untuk membela kehormatan Bait Suci – yang adalah rumah Allah – yang sudah dinodai oleh perdagangan dan konspirasi politik antara para pedagang dan para pemimpin umat (Orang Farisi) pada waktu itu. Sehingga Bait Suci sudah tidak lagi menjadi “suci” dengan masuknya intrik-intrik perdagangan, selain itu, konsentrasi utama dari keberadaan Bait Suci yang adalah agar manusia dapat beribadah kepada Allah menjadi terganggu oleh hiruk-pikuk perdagangan. Pada dasarnya, kemarahan Kristus pada waktu itu adalah karena fungsi “pasar” (bisnis) telah berpindah ke dalam Bait Suci.

Ps: Anda HARUS marah (walaupun tanpa perlu mengobrak-abrik bangku-bangku Gereja) jika rumah Tuhan sudah tidak lagi berfungsi sebagai tempat ibadah!

– Kemarahan sebagai sebuah koleksi (Anger as a collection)
Kemarahan sebagai sebuah koleksi adalah kemarahan yang tidak berkenan di hadapan Allah. Kemarahan sebagai sebuah koleksi adalah suatu tindakan kemarahan yang meluap keluar sebagai hasil dari (1) akar pahit atau (2) dendam atau (3) kebencian yang tidak dibereskan, yang ada di dalam hati kita selama berhari-hari, atau berminggu-minggu, atau berbulan-bulan, atau bahkan bertahun-tahun! Ketiga hal di atas jika tak tertangani dengan baik (yaitu dibereskan di hadapan Tuhan dan sesama dengan serius) ibarat sebuah “bom waktu” yang siap meledak kapan saja ketika ada “pemicu”-nya. Kemarahan seperti ini adalah kemarahan yang dapat membawa maut! Baik bagi orang yang dibelenggu oleh kemarahan ini, maupun bagi orang sekitar yang menjadi korban dari kemarahan ini.

Sebagai contoh: Seorang anak laki-laki berumur belasan tahun pernah berkata bahwa suatu saat nanti ketika dirinya sudah menjadi pria dewasa, ia ingin membunuh ayahnya. Mengapa seorang anak berumur belasan tahun dapat menginginkan kematian ayahnya sendiri? Sebab anak laki-laki ini sedari kecil sudah menyaksikan kekerasan ayahnya atas ibunya. Bahkan ketika sang ayah tidak puas melampiaskan kemarahan kepada ibunya, maka anak ini menjadi “sansak tinju” berikutnya dari sang ayah. Tindakan abusive sang ayah yang bertahun-tahun ini, mengendapkan dendam kesumat di dalam hati anak laki-laki ini. Itu sebab ia menunggu waktu yang sempurna ketika ia dewasa kelak, dimana sang ayah sudah tua renta, di waktu itulah dendam kesumat ini menghasilkan ledakan kemarahan yang dahsyat dan membawa maut bagi sang ayah maupun bagi sang anak itu sendiri.

Apakah Anda mempunyai (1) akar pahit? (2) dendam? Atau (3) kebencian yang tidak dibereskan? Jika “Ya”, maka SEKARANG juga berlututlah di samping tempat tidurmu, dan berdoalah kepada Tuhan Yesus. Mohonkanlah pemulihan dan kekuatan untuk mengampuni mereka yang telah melukai hati Anda dengan sangat. Janganlah tunda untuk melakukan seru sembahyang ini, lakukanlah sekarang sebelum nantinya Anda menyesal karena sudah memendam “bom waktu” yang toh akan merugikan diri Anda sendiri.

Advertisements

About Franz Xaverius

Aku hanya ingin berada dalam zona "Nyaman"-ku, dimana Aku bebas menjadi diriku sendiri tanpa harus mengubah pribadiku menjadi seseorang yang diinginkan oleh orang lain... Aku adalah Aku.. I just want to be in the zone "Comfort", where I am free to be myself without having to change myself be desired by someone else ... I was .. I

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s